Konsumerisme dalam aspek sosial generasi muda Indonesia



Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor empat di dunia, tidak menjadikannya terbebas dari masalah-masalah yang ada, baik ekonomi, sosial, budaya dan politik. Seiring dengan  adanya pergeseran nilai dalam masyarakat, konsumerisme pun juga turut menyebar sebagai salah satu dampaknhya. Penggunaan berbagai macam teknologi barat yang kerap kali menyisihkan peralatan tradisional mendukung tersebarnya budaya konsumerisme yang tak hanya di kota besar, namun juga di kota-kota lain. Konsumerisme adalah perilaku penyimpangan dimana terjadinya kepemilikan atas suatu barang yang mana alasan dasar kepemilikannya tidak selamanya untuk tujuan yang semestinya. Hal ini mengacu pada munculnya perilaku Hedonisme atau membelanjakan barang secara berlebihan.

Konsumerisme pada kemunculannya bahkan sudah ada sejak zaman romawi kuno. Konsumerisme sendiri menjadi bukti nyata atas keberhasilan kaum pemilik modal dalam menjaga stabilitas ekonomi mereka yang dilakukan dengan cara menarik perhatian para konsumen seperti dalam bentuk iklan. Indonesia sebagai negara berkembang menjadi sasaran para kaum pemilik modal, belum lagi arus globalisasi yang semakin tinggi mendukung menyebarnya konsumerisme yang dimulai dari modernism gaya hidup (lifestyle) khususnya pada kaum muda yang lebih mudah terpengaruhi umumnya karena lingkungan dimana ia berada. Kebanyakan pemuda mengalami pergesseran nilai menjadi bergaya hidup hedon dan individualis demi kesenangan dan status sosial mereka. Tingginya tingkat konsumerisme di Indonesia dapat dibandingkan dari data  yang dilansir oleh situs survey similarweb.com, tertulis beberapa situs milik perusahaan jual beli online seperti Tokopedia, Bukalapak, Lazada menempati posisi 20 besar situs yang paling sering dikunjungi di Indonesia. Data tersebut  menunjukkan bahwa konsumerisme juga memasuki ranah daring.

Apabila kita ingat-ingat lagi seringnya muncul tren-tren akan produk baru seperti gawai, ifashion dan lainnya yang seringkali mengalami pergeseran masa, hal ini juga mendorong  munculmya perilaku konsumtif yang didasari hanya karena ikut-ikutan belaka atau menaikkan status sosial. Usaha menaikkan status sosial tersebut adalah salah satu dampak negative konsumerisme yang memunculkan kaum pemanjat sosial. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang rela menderita demi mendapatkan benda-benda yang mereka inginkan khususnya barang barang yang sedang ngetren.


Oleh karena itu kita seagai masyarakat harus menyikapi perilaku konsumerisme sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan globalisme dengan tegas. Sebenarnya perilaku konsumerisme umumnya sudah ada pada diri kita dalam porsi yang wajar untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun bias saja menjadi melampaui batas karena nafsu dan pengaruh dari sekitar kita. Mereka yang pikirannya telah dipenuhi oleh konsumerisme akan terdorong  melakukan usaha hanya untuk berbelanja yang hakikatnya hanya untuk kepuasan tidak ada keinginan untuk menjadi sang produsen. Dalam hal ini kita perlu menekan perilaku konsumtif dengan mensosialisasikan khususnya pada anak muda tentang dampak negatifnya, karena dengan memperbaiki moral pemuda sekaran, berarti kita telah menghasilkan pemimpin yang berintegritas bagi masa depan generasi berikutnya.


Tugas Esai bahasa Indonesia-Caesar A.F.F.A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

INSTAGRAM FEED

@caesaraffa